Sunday, April 13, 2014

Mengapa manusia memilih kehidupan Fana

            Bagaimana memaknai kehidupan? Bgaimana manusia harus mensikapi kehidupannya? Kehidupan dalam Islam, bukanlah rentang waktu yang pendek, yang digambarkan usia seseoarang, atau usia sebagaian umat manusia. Namun, juga bukan rentang waktu yang nyata, yang digambarkan dengan usia umat manusia secara keseluruhan. 

           Kehidupan menurut pandangan Islam adalah kehidupan di segala masanya, baik itu kehidupan nyata yakni kehidupan duniawi dan kidupan akhirat. Masa dalam kehidupan dunia berbanding jauh dengan kehidupan akhirat. Ia bagaikan hanya satu jam di tengah hari. Ruang kehidupan akhirat pun lebih luas dari ruang kehidupan dunia. Ia adalah perpaduan ruang kehidupan dunia dimana manusia hidup dengan ruang lainnya.

             Luas surga dalan kehidupan akhirat sebanding dengan langit dan bumi dalam kehidupan manusia. Sedangkan kehidupan neraka dalam kehidupan akhirat mampu menampung seluruh orang kafir dalam seluruh masa.

             Suasana yang ada dalam kehidupan akhirat tidak akan bisa dirasakan dan disamakan dengan suasana yang ada dalam kehidupan dunia. Allah Ta'ala telah menjelaskan tentang kehidupan akhirat dalam al-Qur'an dengan berbagia karekteriktik yang dimilikinya, hingga tampak jelas hakikatnya bagi siapa saja yang ingin mempelajarinya. Tapi, banyak manusia yang tidak mau memilih kehidupan yang nyata, dan kekal tapi manusia lebih memlilih kehidupan yang fana, yaitu dunia.

             Allah ta'ala berfirman : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan sendau gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui". (al-Ankabut:64)

             Menurut Muhajid, "Sesungguhnya yang dimaksud dengan, sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan adalah kehidupan uang tidak ada kematian didalamnya". Sedang Ibnu Jarir menyatakan, yang dmaksud dengan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Tidak ada sesudahnya, tidak ada kematian. Ibnu Abu Ubaidah mengemukakan, bahwa yang dimaksud dengan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang tidak ada kematian di dalamnya. Ia adalah kehidupan yang tidak penuh dengan tipu daya, sebagaimana kehidupan duniawi.

             Kisah indah digambarkan dalam kehidupan seorang ulama, yaitu Hasan al-Basri, yang sangat zuhud terhadapt dunia. Al-Basri tidak pernah terkena tipu daya dunia. Hidupnya jauh dari perbuatan durhaka, dan senantiasa diliputi ibadah kepada Rabbnya. Ia tingggalkan kehidupan dunia, yang melalaikan, dan hidup tipu daya belaka. Hasan al-Basri, benar-benar seorang, yang senantiasa dirinya terikat dengan akhirat. jalan hidupnya penuh dengan ketaqwaan. Ia tidak ingin mengotori dengan pernik-pernik kenikamatan yang menipu, dan membuatnya terjatuh dalam murka-Nya.

              Ketika hasan al-Basri sedang sakit, saudara-saudaranya dan teman-temannya yang menjenguk merasa heran. Karena mereka tidak mendapati apa-apa dirumahnya, tidak ada tikar maupun selimut, kecuali tempat tidur yang tidak ada apa-apanya. Hasan al-Basri rahimahullah adalah seorang guru dalam kewara'am. Dia mencari tingkat yang luhur dan menjauhkan dirinya dari hal-hal yang mnegotorinya. Alangkah indahnya hidup laki-laki yeng menahan diri dari nafsu dan aneka ragam kenikmatan dunia.

               Sementara, tak sedikit manusia yang binassa lantaran memperturutkan hawa nafsunya. Hasan al-Basri menjauhi hawa nsfsu yang menyukai sengala sesuatu, nafsu yang cenderung kepada aneka kesenangannya yang dapat merusaknya.

              Kewa'aan Hasan al-Basri sampai tingkat ia tidak mengambil gaji dalam tugas dibidang peradilan. Tatkala Abdi bin Arthat, seorang pejabat, memberinya uang sebesar 200 dirham, ia menolaknya . Abdi mengira  pemberian uang itu dinaggap kurang oleh Hasan al-Basri. Karena itu ia menambahnya. Namun, Hasan al-Basri tetap menolaknya. Al-Basri berujar : "aku menolaknya bukan karena kau memandang uang itu sedikirt. Aku menolaknya karena tidak mau mengambil upah dalam memutuskan hukum", tegas al-Basri.

Jarang sekali di zaman sekarang manusia yang memiliki sikap hidup seperti Hasan al-Basri, yang zuhud terhadap kehidupan dunia. Manusia modern di saat sekarang ini, justru mengejar kehidupan dunia yang fana, dan sebentar berakhir manusia. Tapi, justru menusia mengagungkan dan memuja kehidupan dunia yang tidak ada artinya apa-apa di akhirat nanti.



Dikutip dari media dakwah islam "AMANAH"

No comments:

Post a Comment